Apalagi, niat awalnya hanya sebagai lucu-lucuan, tapi ternyata bisa semeledak dan diterima sepositif itu oleh masyarat, dan bahkan mampu bergerak secara generik.
“Awalnya gua panik, jujur aja. Gua tanya sana-sini gua minta advice, minta jalan keluar. Ini kalau gua diapa-apain, tolong gitu kan. Rupanya nggak ya, aman-aman aja,” ungkap Budi.
Namun, di sisi lain Budi merasa bertanggung jawab terhadap gerakan yang terjadi.
Selama tujuh hari antara 22 hingga 29 Agustus 2024, Budi terus aktif di media sosial, berusaha membantu mereka yang terdampak dan memastikan agar informasi tentang orang-orang yang hilang atau ditahan oleh polisi tidak lenyap begitu saja.
“Gua ngerasa bertanggung jawab terhadap gerakan-gerakan yang terjadi, makanya selama tanggal 22 sampai 29, berarti 7 hari ya, selama 7 hari itu saya nggak pernah stop di internet, terutama di thread-thread orang hilang dan orang yang belum keluar dari tangkapan polisi,” tutur Budi melalui Youtube Ferry Irwandi, dikutip oleh Fasenews.id.
“Jadi, saya merasa bertanggung jawab atas nasib mereka. Saya berusaha sebaik mungkin untuk “angkat” bahwa ‘ini loh, masih ada orang di Polsek ini, masih ada di Polres ini’ segala macam, seperti itu bentuk tanggung jawab yang bisa saya lakukan,” sambungnya.
Budi juga mengakui bahwa ia turut berpartisipasi dalam aksi-aksi yang terjadi, meskipun ia tidak bisa membocorkan lokasi atau waktu aksi tersebut.
“Saya juga ikut aksi sebenarnya, tapi saya nggak bisa spill ya, di mana dan kapan, di antara 7 hari itu, yang jelas saya kena semprotan air,” ungkap Budi.
Gerakan Garuda Biru, di mana bermula dari humor dan larping ini justru ternyata berkembang menjadi sebuah gerakan sosial besar, yang diterima oleh masyarakat dan memberikan dampak yang luas. (shi/daf)
