KALTIMHYPE.COMPatung macan putih yang berdiri di Desa Balongjeruk, Kecamatan Kunjang, Kabupaten Kediri, mendadak viral di media sosial.

Bentuk wajah patung yang dinilai tak menyerupai macan pada umumnya memicu beragam komentar warganet, mulai dari kritik hingga candaan.

Di balik viralnya patung tersebut, tersimpan cerita langsung dari sang pembuat patung sekaligus penjelasan resmi dari pemerintah desa terkait anggaran dan latar belakang pembangunannya.

Dikerjakan Sendiri Selama Hampir Tiga Pekan

Patung macan putih itu dibuat oleh seorang pematung lokal bernama Suwari. Ia mengerjakan patung tersebut selama sekitar 19 hari, meski tidak penuh setiap hari.

Seluruh proses pembuatan dilakukan secara mandiri, mulai dari membentuk badan patung hingga bagian pijakan dan fondasi. Tidak ada pekerja lain yang terlibat dalam pengerjaan tersebut.

Suwari mengaku tidak mengalami kesulitan berarti selama proses pembuatan. Ia menyebut sudah terbiasa membuat berbagai jenis patung dengan ukuran dan bentuk yang beragam.

Untuk jasa pembuatan patung, Suwari menerima bayaran sekitar Rp2 juta, sementara biaya material disediakan terpisah dengan nilai sekitar Rp1,5 juta.

Ikon Desa dari Hasil Musyawarah Warga

Kepala Desa Balongjeruk, Safi’i, menjelaskan bahwa pembangunan patung macan putih merupakan hasil musyawarah dengan tokoh masyarakat setempat.

“Dalam musyawarah, disepakati untuk membuat ikon Macan Putih yang sesuai dengan legenda atau cerita yang berkembang di Desa Balongjeruk,” ujar Safi’i, dalam video beredar di medsos. 

Meski hasil akhirnya dinilai belum sempurna dan menuai kritik publik, Safi’i menyampaikan terima kasih atas masukan warganet. Ia memastikan ke depan pihak desa berencana melakukan perbaikan terhadap ikon desa tersebut.

 

Anggaran Rp3,5 Juta, Tanpa Dana Desa

Menanggapi isu anggaran, Safi’i menegaskan bahwa pembangunan patung macan putih tidak menggunakan dana negara maupun dana desa.

“Anggarannya murni dari kantong pribadi saya sendiri, karena saya yang menginisiasi pembuatan patung ini,” kata Safi’i. 

Ia menjelaskan, patung tersebut memiliki panjang sekitar 1,5 meter, lebar 1 meter, dan tinggi mencapai 2,5 meter termasuk fondasi.

Total dana yang dikeluarkan untuk menyelesaikan patung selama kurang lebih 18 hari mencapai Rp3,5 juta, sudah termasuk material dan upah pematung.

Menurut Safi’i, dana desa saat ini diprioritaskan untuk program ketahanan pangan sehingga tidak memungkinkan dialokasikan untuk pembangunan patung.

Hasil Tak Sesuai Konsep Awal

Meski pembangunannya telah rampung, Safi’i mengakui hasil akhir patung tidak sepenuhnya sesuai dengan konsep awal yang direncanakan.

Bentuk dan tampilan patung justru jauh dari ekspektasi, hingga akhirnya memicu perhatian luas masyarakat dan menjadi viral di media sosial.

Legenda Macan Putih dalam Sejarah Kediri

Dalam kepercayaan dan cerita rakyat Jawa Timur, macan putih memiliki keterkaitan erat dengan wilayah Kediri dan sejarah Kerajaan Kediri di masa lampau.

Macan putih dipercaya sebagai simbol spiritual yang melambangkan:

  • Penjelmaan leluhur atau tokoh sakti
  • Penjaga gaib wilayah Kediri
  • Simbol kekuasaan, kewibawaan, dan perlindungan

Dalam sejumlah kisah, macan putih sering disebut sebagai khodam atau makhluk pendamping raja dan bangsawan.

Gunung Wilis dan kawasan sekitar Kediri juga kerap dikaitkan sebagai wilayah yang dijaga oleh energi macan putih dalam mitologi Jawa. (tam)