KALTIMHYPE.COMHarry Truman Simanjuntak, salah satu arkeolog di Indonesia mengundurkan diri dari Tim Penulisan Ulang Sejarah Indonesia yang dibentuk oleh Kementerian Kebudayaan di bawah kepemimpinan Fadly Zon.

Langkah ini ia ambil setelah menemukan sejumlah kejanggalan, salah satunya adalah dalam hal penjadwalan dan metodologi.

Harry Truman Simanjuntak menilai proses penulisan ulang sejarah yang ditargetkan selesai pada Juni 2025 tidak realistis, sebab hingga Januari 2025 baru akan dimulai tahap rapat konsepsi.

Sementara berdasarkan background pengalamannya, penulisan sejarah nasional yang serius setidaknya memerlukan waktu antara 5 hingga 10 tahun. 

Kondisi tersebut membuat Truman merasa tidak dapat memberikan kontribusi maksimal dan akhirnya memutuskan keluar dari tim.

Siapa Harry Truman Simanjuntak?

Harry Truman Simanjuntak dikenal sebagai arkeolog Indonesia yang menekuni arkeologi prasejarah, dengan rekam jejak ilmiah yang panjang dan mendalam.

Meski awalnya menempuh pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, ia kemudian mengikuti panggilan hati dengan pindah ke Yogyakarta dan melanjutkan pendidikan arkeologi hingga ke jenjang internasional.

Truman meraih gelar master dan doktor dari Institut de Paléontologie Humaine masing-masing pada tahun 1987 dan 1991.

Kiprah Ilmiah: 106 Publikasi dan Puluhan Tahun Riset

Hingga kini, Truman telah menerbitkan 106 publikasi ilmiah, sebagaimana tercatat di situs akademik ResearchGate.

Penelitiannya meliputi berbagai wilayah penting di Indonesia, mulai dari Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sumba, hingga Maluku. Fokus utamanya adalah kehidupan manusia prasejarah, hominid, dan budaya masa Plestosen akhir hingga Holosen awal.

 

Karier dan Penghargaan yang Mengukuhkan Reputasi

Karier profesionalnya dimulai di Balai Arkeologi Yogyakarta pada 1977 hingga 1986.

Setelah menempuh studi di luar negeri, ia kembali ke Indonesia dan menjabat sebagai kepala divisi prasejarah di Pusat Penelitian Arkeologi Nasional pada 1992–2000.

Ia juga pernah menjadi Ketua Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI) periode 2002–2005, dan pada 2006 diangkat sebagai Profesor Riset, membawakan orasi ilmiah berjudul "Pluralisme dan Multikulturalisme dalam Prasejarah Indonesia".

Penghargaan Bergengsi atas Dedikasi Panjang

Atas kontribusinya selama lebih dari tiga dekade, Truman menerima Sarwono Award dari LIPI pada tahun 2015. Setahun kemudian, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan juga memberikan penghargaan sebagai salah satu dari 40 tokoh pegiat pendidikan Indonesia.

Kesimpulan: Suara Kritis dari Seorang Ilmuwan Senior

Keputusan Harry Truman Simanjuntak mundur dari proyek nasional penulisan ulang sejarah Indonesia menjadi alarm penting akan pentingnya proses ilmiah yang matang dan objektif.

Dengan segudang pengalaman dan puluhan publikasi ilmiah, suaranya mencerminkan kehati-hatian akademik yang tidak bisa diabaikan dalam proses penulisan ulang narasi sejarah bangsa. (tam)