KALTIMHYPE.COM - Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Simon Aloysius Mantiri, secara terbuka menyampaikan permohonan maaf kepada publik atas kasus dugaan korupsi dalam tata kelola minyak di tubuh Pertamina.
Permintaan maaf ini disampaikannya dalam konferensi pers yang digelar di Grha Pertamina, Jakarta, pada Senin (3/3/2025).
Simon Aloysius menegaskan komitmennya untuk bekerja sama dengan Kejaksaan Agung dalam proses penyelidikan dugaan tindak pidana korupsi yang melibatkan tata kelola minyak mentah serta produk kilang di Pertamina, termasuk Subholding dan Kontraktor Kontrak Kerja Sama.
Hingga saat ini, detail harta kekayaan Simon Aloysius Mantiri belum tercantum dalam Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) di laman resmi e-LHKPN KPK.
Namun, berdasarkan estimasi gaji Direktur Utama Pertamina, ia diperkirakan memperoleh penghasilan sekitar Rp 36,9 miliar per tahun atau sekitar Rp 3 miliar per bulan, mengacu pada laporan keuangan Pertamina tahun 2022.
Sebelum menjabat sebagai Direktur Utama Pertamina, Simon Aloysius Mantiri diketahui pernah berkarier di sektor pertambangan. Ia sebelumnya menjabat sebagai Komisaris Utama dan Independen Pertamina sejak 10 Juni 2024.
Selain itu, ia juga memiliki pengalaman sebagai Direktur Keuangan PT Agro Industri Nasional (Agrinas) yang terlibat dalam proyek Food Estate di Kalimantan Tengah, serta sempat menduduki posisi penting di PT Nusantara Energi.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, Simon Aloysius Mantiri lahir di Kamasi, Tomohon, Sulawesi Utara, dan merupakan anggota Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Gerindra.
Pada Pemilihan Presiden 2024, pria asal Desa Kamasi, Tomohon, Sulawesi Utara ini masuk dalam tim Wakil Bendahara Tim Kampanye Nasional (TKN) Prabowo-Gibran.
Simon diketahui diangkat sebagai Direktur Utama Pertamina melalui Keputusan Menteri BUMN SK-259/MBU/11/2024 pada 4 November 2024.
Dari profil pendidikannya, usai menyelesaikan pendidikan menengah, Simon melanjutkan studinya di jurusan Teknik Kelautan, Institut Teknologi Bandung (ITB). Setelah lulus pada tahun 2003, ia memulai karier sebagai engineer di sektor minyak dan gas, khususnya di blok South East Sumatera milik China National Offshore Oil Corporation (CNOOC). Ia juga meraih gelar Master of Business Administration (MBA) serta mengikuti berbagai program pendidikan eksekutif, termasuk di Tsinghua University, China. (tam)
