KALTIMHYPE.COM - Pemerintah Provinsi Kaltim melalui DPMPD tak henti-hentinya menjalankan program untuk memperkokoh ketahanan keluarga serta mendukung masyarakat menjadi lebih mandiri.

Wujud nyata dari komitmen itu adalah peningkatan kesadaran keluarga untuk membangun sinergi antar keluarga, warga, dan komunitas, serta penyelenggaraan pelatihan parenting.

Kepala DPMPD Kaltim, Puguh Harjanto, menggarisbawahi pentingnya sinergi berbagai pihak dalam menghadapi tantangan sosial, dengan fokus utama pada percepatan penurunan stunting.

“Permasalahan keluarga dimulai sejak usia dini, salah satunya adalah stunting. Ini ancaman serius bagi masa depan generasi kita,” ucap Puguh.

Ia menekankan bahwa isu-isu seperti perkawinan dini, kurangnya akses pendidikan, dan penyimpangan perilaku remaja masih menjadi tantangan serius yang menambah tekanan sosial di Kaltim.

Data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2023 mencatat bahwa prevalensi stunting di Kaltim naik menjadi 23,9 persen, lebih tinggi dari 22,8 persen pada tahun 2022.

“Ini menjadi alarm bagi kita semua. Target kita jelas, prevalensi stunting harus turun hingga 14 persen pada 2024,” jelasnya.

Ia menyatakan bahwa stunting adalah persoalan yang melampaui kesehatan, karena menyangkut kualitas dan masa depan generasi penerus bangsa.

Gangguan perkembangan akibat stunting pada anak dapat memengaruhi potensi mereka, sehingga berdampak negatif pada kualitas SDM Indonesia di masa mendatang.

“Bagaimana kita bisa mencapai visi Indonesia Emas 2045 jika modal dasarnya terganggu? Oleh karena itu, upaya penanganan stunting harus dilakukan secara kolaboratif,” ungkapnya.

Puguh menuturkan bahwa kerja sama antara pemerintah, masyarakat, dan kelompok sosial adalah elemen penting dalam menyukseskan program ini.

“Masa depan kita bergantung pada aksi kolaboratif yang kita lakukan sekarang. Anak-anak yang kita rawat hari ini adalah mereka yang akan menjaga bangsa ini di masa depan,”ujar Puguh. (adv)