Faktor ketiga adalah soal harga. Rusia menegaskan tidak ada skema “harga teman” dalam kerja sama ini.

Transaksi akan dilakukan secara business-to-business, misalnya antara Pertamina dengan perusahaan Rusia, dengan harga mengikuti mekanisme pasar.

Memang, secara teori minyak Rusia bisa lebih murah, namun biaya logistik dan risiko tambahan bisa membuat harga akhirnya tidak jauh berbeda. 

Peluang Ada, Tapi Penuh Risiko

Dengan tiga faktor dari kapal, pembayaran, dan harga rencana impor energi dari Rusia masih jauh dari kata pasti.

Indonesia memang membutuhkan diversifikasi sumber energi, tetapi di tengah tekanan geopolitik global, setiap keputusan membawa konsekuensi besar. 

Bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga menyangkut risiko logistik dan kendala sistem keuangan internasional. (daf)