Desain bulat berpori dari Hydroclay mempermudah akar tanaman untuk tumbuh dengan baik tanpa terluka, menjadikannya ideal untuk tanaman hias, hortikultura, dan buah-buahan.

Selain itu, Hydroclay juga diharapkan dapat membantu meningkatkan kemandirian ekonomi masyarakat desa dengan memberikan peluang usaha baru.

Dengan harga jual Rp25.000 per kg, Hydroclay bersaing dengan produk impor dan menawarkan peluang bisnis yang menjanjikan.

Noor Agustina menjelaskan bahwa produk ini akan mencapai titik impas (BEP) setelah menjual 31 kg atau setara dengan Rp762.950.

“Kami optimis inovasi ini mampu menjadi solusi bagi petani modern sekaligus mendukung pertumbuhan UKM di Kaltim,” ujarnya.

Adanya inovasi Hydroclay ini tidak hanya menjadi jawaban untuk tantangan urban farming, tetapi juga mendukung program DPMPD Kaltim dalam mendorong desa-desa untuk lebih mandiri dan produktif.

Melalui langkah ini, DPMPD Kaltim berharap dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa secara berkelanjutan. (adv)