Berdasarkan data dari DPMPD, sekitar 14% desa yang dipantau melalui program KPSPAMS dilaporkan sudah memiliki akses ke sistem air bersih yang dapat dikategorikan layak.

Sebagian desa yang belum memiliki akses air bersih yang memadai masih mengandalkan sumur dangkal atau sumber air yang tidak sesuai standar, yang menjadi salah satu prioritas dalam program desa bebas stunting.

“KPSPAMS menjadi salah satu alat pemantauan kami, sehingga upaya ini bisa terukur dan berdampak langsung pada masyarakat,” lanjutnya.

Sebagai bagian dari upaya penguatan program, pemerintah menghadirkan inovasi kreatif berupa lomba video potensi desa pada Agustus 2024 dengan keterlibatan mahasiswa KKN.

Tujuan dari kegiatan ini adalah memamerkan berbagai potensi lokal dan menyampaikan informasi edukatif terkait pencegahan stunting.

Pemerintah berharap melalui program berbasis data KPSPAMS dan kerja sama lintas sektor, upaya untuk menekan angka stunting dapat dilakukan secara efektif dan berkelanjutan.

“Kami mendapat banyak video dari desa-desa yang menampilkan kondisi dan potensi mereka. Ini membantu kami memetakan kebutuhan, termasuk keberadaan fasilitas air minum dan sanitasi di desa tersebut,” jelasnya. (adv)