Kendati begitu, Ina menyampaikan kekhawatiran atas kondisi infrastruktur, di mana sekitar 50% sarana air minum dan sanitasi desa belum memenuhi standar pemeliharaan.

“Hanya sekitar 20% yang masih bisa digunakan tanpa perbaikan besar. Sisanya memerlukan pembenahan agar fungsional kembali,” terangnya.

Desa-desa yang sukses memperbaiki pengelolaan infrastrukturnya melalui program ini diharapkan mampu menginspirasi desa-desa lain untuk melakukan hal serupa.

Keberlanjutan pembangunan sanitasi di desa menjadi fokus KP SPAMS Juara, yang direncanakan terus berlangsung dalam beberapa tahun ke depan.

Dengan adanya pelatihan yang berkelanjutan dan inovasi seperti KP SPAMS Juara diharapkan dapat membantu lebih banyak kelompok pengelola di desa untuk mengoptimalkan pemanfaatan infrastruktur yang ada.

“Kami ingin infrastruktur yang ada tidak hanya terbangun, tapi juga terawat dan memberikan manfaat bagi masyarakat secara luas,” jelasnya. (adv)