Namun, ketika temannya Guntur, salah satu peserta ASEAN Para Games Malaysia 2017, mengajaknya, hidupnya berubah.
“Guntur itu kebetulan satu kampung dengan saya. Dia mengajak saya untuk mencoba menjadi atlet. Awalnya, saya ragu karena belum pernah terjun sebagai atlet. Tapi, dorongan dan dukungan dari Guntur serta teman-teman membuat saya mulai berlatih terus,” cerita Firdaus.
Firdaus tidak menganggap enteng keputusan menjadi atlet dengan difabilitas.
Dia membutuhkan dua hingga tiga tahun untuk terbiasa dengan kondisi fisik barunya, terutama saat dia mulai pelajaran berenang.
“Awal-awal dulu latihan dengan biaya sendiri. Belum ada dukungan dari pemerintah, jadi semua usaha dan biaya saya keluarkan sendiri,” kenangnya.
Ketekunan Firdaus akhirnya membuahkan hasil yang luar biasa.
Karena letak desanya yang dekat dengan sungai, ia sudah mahir berenang sebelum kecelakaan terjadi.
Namun, kemampuan berenang tentu saja belum cukup untuk menjadi seorang atlet profesional.
Firdaus berlatih dengan rajin setiap hari, menyesuaikan diri dengan latihan yang ketat, dan berkonsentrasi pada tujuannya.
