Lalu Jairi mengaku dijebak dan tidak tahu menahu soal surat gugagatan yang ditujukan kepada Ketua Umum PDI Perjuangan, mereka tahunya cuman diminta tanda tangan dikertas kosong dan diberi imbalan uang sebesar 300 ribu.
“Pada kesempatan malam ini, saya menyatakan atau mengklarifikasi bahwa kami merasa dijebak dengan adanya surat gugatan yang ditujukan kepada ketua umum kami, kami cuman hanya dimintakan tanda tangan di kertas kosong, setelah itu kami diberikan imbalan Rp 300 ribu,” tambah Jairi.
Kemudian dia menjalaskan, dia tidak tahu kertas kosong yang ditandatangani itu bakal dijadikan surat untuk menggugat perpanjangan SK Kepengurusan PDI Perjuangan.
“Betul (kami tidak tahu kertas kosong itu akan digunakan untuk surat kuasa menggugat SKK DPP PDIP). Jadi kertas kosong itu kami tanda tangani, tidak ada arahan atau penjelasan kepada kami. Cuma kami dimintakan tanda tangan saja,” ujar Jairi.
Disisi lainnya lagi, Jairi akan membatalkan gugatan perpanjangan SK Kepengurusan DPP PDI Perjuangan, dan meminta maaf lagi kepada Ketua Umum PDI Perjuangan beserta anggotanya.
“Kalau untuk gugatan itu, ya kami membatalkan. Kami tidak menuntut atau menggugat (SK DPP PDIP). Kami ini dalam posisi dijebak. Semoga kasus ini menjadi pelajaran ke depannya agar tidak lagi digunakan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab," katanya.
“Sekali lagi kami meminta maaf kepada ketua umum kami, ibu Hj Megawati Soekarnoputri, beserta seluruh keluarga besar PDIP,” pungkasnya. (gwh)
